Minggu, 29 Juli 2012

Muslim Nias Dambakan Kehadiran Masjid

 Mushala Jabal Nur Pesantren Hidayatullah Nias

 REPUBLIKA.CO.ID, Azan Dhuhur berkumandang dari bangunan Mushala Jabal Nur Pesantren Hidayatullah Nias yang bangun tahun 2002.

Puluhan santri bergegas mendatangi suara adzan untuk menunaikan sholat. Dan yang membuat terkesan adalah dengan jumlah santri yang berjumlah kurang lebih 67 orang dengan ukuran mushollah hanya mampu menampung sekitar 23 orang santri. Akhirnya mereka sholat dengan berdesak-desakan.

Menurut pimpinan Pesantren Hidayatullah Nias Ust Sriyono, keberadaan mushollah Jabal Nur sangat fital, karena kenyatannya sangat dibutuhkan para santri untuk di jadikan tempat pembinaan mental spiritual, untuk itu diperlukan adanya sebuah masjid.   

“Keberadaan Masjid saat ini sangat kami butuhkan, karena mushollah saat ini sudah tidak mampu menampung dan Bangunan Musholla sudah banyak yang di makan rayap.”
Karenanya kehadiran masjid sudah kian mendesak, maka saat ini Musholah Jabal Nur sedang disiapkan sebagai cikal-bakal berdirinya masjid. Persiapan berupa pondasi, tiang dan balok slop atas sedang disiapkan.

Cikal-bakal masjid ini sudah dibangun sejak tahun 2007. Saat itu dapat bantuan dari Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) Nias berjumlah Rp. 32.500.000.

Menurut Sriyono, jika masjid ini siap di bangun, maka sebagian akan dimanfaatkan untuk ruang belajar mengajar MTs Ash-Habul Kahfi.  Ini karena  bangunan sekolah sudah tidak mampu menampung lagi.

“Karenanya, kami sangat berharap sekali agar masjid ini dapat siap secepatnya. Agar semangat anak-anak santri yang berasal dari pedalaman Nias ini dapat lebih termotivasi lagi dalam belajar.”

Sebagaimana diketahui, keberadaan Pesantren Hidayatullah di pulau Nias memegang peran penting dalam sejarah dakwah Islam di pulau yang cukup terisolasi ini.
Maklum, di tempat terpencil ini, saat ini hanya ada 2 pesantren yang mampu bertahan sampai sekarang yaitu; Pesantren Umi Kalsum yang berada di kota Gunungsitoli dan Pesantren Hidayatullah yang berada di Kecamatan Gunung Sitoli Idanoi.

Yang menarik, jumlah penduduk Muslim di kepulauan Nias hanya sekitar 5 persen dari total penduduk Nias. Karenanya, keberadaan hadirnya sebuah masjid dan pusat kegiatan Islam sangat diperlukan.

“Dengan ini keberadaan Masjid ini sangat kami harapkan agar kami dapat lebih leluasa membimbing para santri untuk kemajuan dakwah di Kepulauan Nias.”
Menurut seorang warga, Yahman Hulu,  “Kebanyakan Muslim di sini adalah pendatang. Jadi agak sulit untuk mengumpulkan dana untuk pembangunan masjid melalui swadaya masyarakat” 

Hanya, saja, dengan pekembangan jumlah umat Islam dan santri-santri yang ingin belajar Islam, kebutuhan  adanya masjid yang layak, bisa digunakan tempat shalat dan belajar tak bisa ditawar-tawar lagi. Sebab warga dan santri tidak mungkin harus berjalan jauh mencari masjid yang jumlahnya terbatas.

“Jarak antara masjid  yang berada di desa Humane dan pondok pesantren
lebih kurang 10 Km. jadi sangat tidak memungkinkan untuk di gunakan untuk kegiatan beribadah sehari-hari,” ujar  Ust Sriyono, Pimpinan Pesantren Hidayatullah Nias.

Kegalauan serupa dirasakan para santri.  Muhammad Ali Lahagu, seorang santri di pesantren itu mengatakan, biasanya, ia shalat dan memperoleh pelajaran di mushollah Jabal Nur yang hanya berukusan 5 x 6 meter. Seiring dengan perkembangan santri, tempat ini sudah tidak layak lagi.

“Sekarang mulai ajaran baru, jumlah santri bertambah banyak dari 23 siswa. Saat ini santri sudah berjumlah 67 orang. Jadi kegiatan sholat dan pembelajaran diniyah sesudah sholat harus berdekat-dekatan dengan kelompok belajar lainya. Mudah mudahan Ramadhan ini kami bisa sholat tarawih di masjid yang sedang dibangun,” katanya penuh harap.

Karena  tak adanya masjid, selama ini, masyarakat Muslim hanya memanfaatkan keberadaan mushollah Jabal Nur, yang secara fisik sudah tidak layak lagi.

“Anak saya belajar di pesantren ini dengan segala kekurangan sarana dan prasarananya,” ujar seorang orangtua murid bernama Ikran Harefa.

Karenanya, besar harapan Harefa agar ada sebagian kaum Muslim ikut mendengar keluhannya ini, semata-mata agar anak-anak Muslim di Pulau Nias ini juga bisa menikmati belajar Islam dan shalat dengan tempat yang layak.

Kirimkan Donasi Anda ke Rek Bank BNI Syariah : 70.000.333.5 an. Baitul Maal Hidayatullah 
untuk konfirmasi Transfer SMS ke : 0852 6047 4611 (Masdar Ayub)  
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/

DPR: Kekerasan ke Rohingya Mengarah Pembersihan Etnis


 REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Komisi I DPR, Mahfudz Siddiq, menilai, tindakan kekerasan yang dilakukan pemerintah Myanmar terhadap muslim Rohingya sudah mengarah ke pembersihan etnis. Tindakan ini diperkirakannya akan terus berlanjut, kecuali pemerintah Myanmar mau membuka kebijakan politik.

''(Kebijakan politiknya) Yaitu untuk menerima mereka sebagai bagian dari warga muslim Arakan dan bagian dari warga negara Myanmar. Lalu segala bentuk diskriminasi dihentikan,'' kata Mahfudz kepada wartawan, Kamis (26/7).

Jika hal ini dilakukan, lanjutnya, maka Myanmar akan mencatat capaian besar dalam proses demokratisasi yang tengah dijalankan. Myanmar juga bakal menjadi pijakan sangat penting dalam mengelola pluralisme secara demokratis di Myanmar.

Selama ini, Mahhfudz menilai, pemerintah Myanmar telah melakukan pengabaian terhadap nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan. ''Itu artinya, semua unsur di Myanmar bertanggung jawab terhadap ethnic cleansing yang sedang dan terus terjadi,'' papar Wasekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut.


Sumber: http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/

Sabtu, 28 Juli 2012

Muslim Thailand Serukan Bantu Muslim Rohingya

 Sejumlah massa melakukan aksi damai menyerukan penghentian penindasan etnis minoritas Rohingya di Bundaran HI, Jakarta, Kamis (26/7). (Tahta Aidilla/Republika)

REPUBLIKA.CO.ID, BANGKOK -- Pemimpin komunitas Muslim Thailand, Aziz Butakumpun, mengaku prihatin dengan apa yang dialami Muslim Rohingya. Namun, ia tidak bisa berkomentar banyak soal itu.
"Pengetahuan saya soal Muslim Rohingya terbatas. Yang pasti, kita harus membantu mereka," kata Butakumpun, seperti dikutip dari Anadolu Agency, Kamis (26/7).

Butakumpun menyebutkan masalah Muslim Rohingya bukanlah hal baru. Namun, masalah tersebut sudah terjadi bertahun-tahun lamanya.
Butakumpun melihat pejabat Muslim Thailand di ASEAN telah berinisiatif membahas isu Rohingya dengan Menteri Luar Negeri Myanmar. "Insya Allah, apa yang terjadi di Myanmar tidak terjadi di Thailand," ucapnya.

Butakumpun mengatakan apa yang terjadi di wilayah tersebut tidak akan mengubah cara orang melihat umat Islam di Thailand dan cara umat Islam di Thailand melihat umat Buddha.
"Jadi, jangan katakan Thailand sebagai negara Buddhis akan melakukan hal yang sama dengan Myanmar," pungkas dia.

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/

Warga Israel Anggap Polisi Perbatasan Kurang Sadis Siksa Bocah Palestina

Eramuslim.com | Media Islam Rujukan, Para aktivis mengecam sebuah video yang dirilis Senin lalu oleh lembaga hak asasi manusia Israel B'Tselem yang menunjukkan petugas perbatasan Israel menendang seorang anak Palestina di sektor yang dikontrol Israel di wilayah Hebron.

 Petugas terlihat dalam video itu meraih lengan anak laki-laki sembilan tahun bernama Abdul Rahman Burqan, menyeretnya sambil mengatakan: "Mengapa kamu membuat masalah" Kata seorang petugas kedua yang berjalan ke arah anak itu dan menendang anak tersebut sambil berteriak.

 Menurut B'Tselem, insiden itu terjadi pada hari Jumat pekan lalu di dekat Masjid Ibrahim, sebuah lokasi yang sering menjadi lokasi bentrokan antara polisi dan para pemuda Palestina.

 Polisi Perbatasan Israel segera mengumumkan penyelidikan atas insiden ini. Dalam pernyataan yang dirilis tak lama setelah video tersebut dipublikasikan secara online, mengatakan "mengutuk perilaku polisi sebagai tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan," lapor Times of Israel.

 Video itu diambil diam-diam dari balik sebuah bangunan oleh seorang pegiat kemanusiaan Palestina dan disebarluaskan oleh organisasi pembela hak asasi manusia Israel, B'Tselem.

 Menurut direktur B'Tselem, Jessica Montell, pemerintah Israel saat ini sedang mengusut insiden itu. Tetapi menurut dia hal itu hanyalah formalitas karena nyatanya tidak pernah ada tindakan hukum diambil terhadap aksi kekerasan dilakukan oleh aparat atau warga sipil Negeri Zionis itu terhadap orang-orang Palestina.

 Namun banyak warga Israel mengekspresikan dukungan mereka terhadap tindakan petugas polisi perbatasan di situs jejaring sosial. Mereka malah menganggap aparat itu kurang sadis dalam menyiksa anak tersebut. Setidaknya ada 821 dukungan warga Negeri Zionis itu dalam laman Facebook stasiun televisi Israel, Channel 2.

 "Jika saya menjadi polisi itu, saya bakal menembak kepala bocah itu lima kali," tulis Avishy Nappe, pengguna Facebook asal Israel. Lainnya menulis bakal menghantam kepala bocah itu dengan batu bata terlebih dulu baru kemudian menendangnya.

 Salah satu warga Israel Ariel Davidpur menulis: "Polisi perbatasan adalah pahlawan! Sayang dia tidak membunuhnya dengan tendangan."

 Tentara dan aparat keamanan Israel sering menahan dan menyiksa anak-anak, laki-laki dan perempuan, tanpa alasan jelas. Mereka pun tidak segan-segan membunuh para bocah itu.(fq/aby)

Sumber: http://eramuslim.com/berita-warga-israel-anggap-polisi-perbatasan-kurang-sadis-siksa-bocah-palestina.html

Jumat, 27 Juli 2012

Perang Suriah Jadi Tontonan Warga Israel

REPUBLIKA.CO.ID, GOLAN -- Puluhan warga Israel berbondong-bondong menuju Dataran Tinggi Golan dekat perbatasan Suriah. Mereka datang untuk melihat pertempuran yang sedang terjadi antara pasukan pemerintah dengan opisisi.

Seperti dilansir Times of Israel, Rabu (25/7), tren nonton bareng pertempuran itu pertama kali diperkenalkan Menteri Pertahanan Israel, Ehud Barak. Ia mengatakan, dirinya mengunjungi Dataran Tinggi Golan untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri pertempuran yang terjadi di Suriah.

Sejak saat itu, gelombang warga Israel yang datang ke Dataran Tinggi Golan terus bertambah dalam beberapa hari belakangan ini. Uniknya, warga Israel tersebut menyaksikan pertempuran dengan membawa teropong dan kamera.

Mereka datang menyaksikan pertempuran yang jarang-jarang terjadi. Dikesempatan itu, puluhan warga Israel itu mendengar suara dentuman ledakan bom dan rentetan senjata yang sering terjadi.

Yang menarik, para penyelenggara perjalanan wisata di Israel, memasukkan 'pemandangan pertempuran di Suriah' dalam agenda perjalanan kepada para turis. Lalu apa yang dilakukan militer Israel?

Militer Israel mengaku mereka terus melakukan cara terbaik untuk menjauhkan para 'pelancong' dari senjata-senjata militer yang diletakan di sepanjang perbatasan Suriah.



Sumber: http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/

Kamis, 26 Juli 2012

Komite Yordania untuk Yersalem Serukan Dunia Internasional untuk Lindungi Al - Aqsha

Eramuslim.com | Media Islam Rujukan, Komite kerajaan untuk urusan Yerusalem Yordania mengimbau masyarakat internasional untuk campur tangan dalam melindungi Masjid Al Aqsha terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh Israel.

 Dalam pernyataan kepada kantor berita Yordania, sekretaris jenderal komite kerajaan Abdullah Kanaan mengatakan komitenya akan menindaklanjuti pelanggaran besar yang dilakukan Israel terhadap tempat-tempat suci Islam dan Kristen.

 Kanaan memperingatkan bahwa para pejabat rasis Israel dan pemukim Yahudi ekstremis berniat untuk menodai Masjid Al-Aqsha pada tanggal 29 Juli yang didorong oleh RUU Knesset baru-baru ini yang menyatakan bahwa Masjid Al-Aqsha berada dalam kekuasaan Israel.

 "Negara pendudukan dan pemerintah Zionis harus tahu bahwa hukum internasional akan menjadi hakim cepat atau lambat," tegas pejabat Yordania tersebut.

 "Yordania diwakili oleh kepemimpinan Hashimiah, orang-orangnya dan tentaranya, telah mengorbankan diri sepanjang sejarah dan sejak munculnya perjuangan Palestina sudah banyak syuhada untuk Yerusalem dan Palestina," pejabat itu menggarisbawahi.

 Dia juga meminta PBB, Liga Arab, organisasi kerja sama Islam (OKI) dan komite Yerusalem yang dipimpin oleh Raja Maroko Muhammad bin Al-Hasan untuk mempercepat mengajak masyarakat internasional untuk memikul tanggung jawab mereka terhadap situs suci Islam dan Kristen Palestina.(fq/pic)

Sumber: http://eramuslim.com/berita-komite-yordania-untuk-yerusalem-serukan-dunia-internasional-untuk-lindungi-alaqsha.html

RUU Perguruan Tinggi Terancam Disahkan, Kenapa Masih Diam?

 Aksi menolak disahkannya RUU PT
 
Pendidikan adalah hal terpenting didalam masyarakat dan bangsa, hal pokok karena pendidikan akan menjadi ujung tombak kemajuan dalam suatu Negara. Namun, seiring berjalan waktu, pendidikan semakin kehilangan jati diri, bukan salah pendidikan itu sendiri, tapi puncak kebobrokan pendidikan kita bermula dari para pengelolanya, pendidikan tak lagi dikelola untuk mendidik anak bangsa menjadi pintar dan bermartabat, tapi pendidikan dikelola bak perusahaan, yang disana terdapat untung dan rugi, pendidikan tak lagi menghiraukan tingkat moralitas yang dididik, tapi para pengelola pendidikan sekarang terkungkung kepada seberapa mahal SPP harus dinaikkan agar mendapat keuntungan alias tak mengalami kerugian dalam mengelola ‘perusahaanya’.
Lebih kurang begitu sedikit gambaran dunia pendidikan kita sekarang, belum lagi kita melihat produk-produk dari pendidikan sekarang, walaupun tak sedikit juga ada yang sukses, tapi jika dibandingkan dengan pendidikan beberapa waktu lalu, kwalitas pendidikan kita semakin menurun. Namun, itu belum terlalu signifikan kelihatan. Ketika keluar RUU PT yang hampir saja disahkan kemaren (10/4), dunia pendidikan kita, lebih khususunya perguruan tinggi hampir jatuh ketingkat yang lebih parah. Kenapa? Karena banyak sekali potensi-potensi buruk yang bisa disebabkan dari RUU PT tersebut.
Dalam diskusi BEM KM UGM, mereka telah menyimpulkan beberapa masalah yang terjadi di dalam RUU PT ini. Setidaknya ada 7 masalah RUU PT ini yang akan ditimbulkan:
1. Aset Kampus Bebas Disewakan oleh Universitas dengan biaya mahal
2. Perguruan Tinggi Asing Boleh Mendirikan ‘Cabang’ di Indonesia
3. Mahasiswa yang tidak mampu akan disuruh “Berutang” kepada pemerintah dan akan dibayar setelah lulus kuliah atau sudah kerja
4. Organisasi Kemahasiswaan di Kampus akan diatur oleh Menteri
5. RUU PT adalah UU BHP Jilid II : rakyat akan semakin susah kuliah jika tidak punya uang.
6. Perguruan Tinggi Swasta akan ‘berperang’dengan Yayasan karena sama-sama berbahan hukum
7. RUU PT berpontensi melahirkan banyak RUU baru, karena semua jenis pendidikan akan minta diatur oleh pemerintah
Komersialisasi Pendidikan
DPR beralasan bahwa banyak APBN yang habis untuk membiyayai pendidikan tinggi, sehingga banyak dana yang terlokasikan kesana. Jadi, didalam RUU PT dibuatlah sebuah pasal yang mengatur bahwa seluruh pengelolaan perguruan tinggi dikembalikan ke perguruan tinggi masing-masing. Padahal dana yang dialokasikan untuk pendidikan tinggi sangat sedikit sekali dari anggaran pendidikan hanya 2,5% saja, sehingga SPP peguruan tinggi tetap tinggi, lalu kemana perginya Anggaran pendidikan yang katanya 20% dari APBN itu? Apa ini lagi-lagi ‘proyek’? Wallahua’lam. Jika RUU PT tenyata benar-benar jadi disahkan nantinya, dan tidak ada perubahan, maka secara langsung SPP akan jauh melambung tinggi.
Faktanya, jauh sebelum RUU PT ini akan diketok, sebenarnya ada hal tak wajar sudah terjadi di beberapa Perguruan Tinggi Negeri, contoh saja yang terjadi di UNAIR (Universitas Airlangga), semenjak status Unair berubah dari Perguruan Tinggi Negeri menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Sejak itu , biaya pendidikan naik sekitar 80 persen. Biaya masuk untuk jalur penelurusan minat dan kemampuan (PMDK) di Fakultas Kedokteran Unair naik dari Rp 75 juta menjadi Rp 150 juta. Adapun di Fakultas Ilmu Budaya Unair, mahasiswa yang masuk di jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) yang tadinya tidak dipungut biaya, pada tahun 2011 dipungut biaya Rp 7,5 juta. Apalagi jika nantinya RUU PT ini benar-benar di ketok oleh DPR dan Pemerintah, tentunya komersialisasi di dunia pendidikan tinggi tak terbendung lagi, dan efeknya adalah biaya pendidikan tinggi melangit, dan akibatnya rakyat yang menjadi korban. Sekedar intermezo, untuk pembahasan RUU PT ini sudah menghabiskan uang Negara 2 milyar lho
Liberalisasi Pendidikan
Miris lagi, salah satu pasal dalam RUU PT tersebut menyebutkan bahwa universitas Negara lain bisa membuat cabang di Indonesia (Pasal 114). Sehingga bayangkan saja nanti ada Universitas Harvard cabang Surabaya, atau Universitas Harvard cabang Jakarta. Bagus memang secara sekilas kita bisa menikmati pendidikan standar international katanya, tapi bagaimana nasib dengan universitas dalam negeri? Dan yang terpenting adalah bagaimana dengan budaya pendidikan timur kita? Apakah mau dihancurkan lagi, setelah kemaren heboh dengan buku LKS (lembaran kerja siswa) kelas 2 SD yang memuat cerita istri simpanan, dan akhir-akhir ini lagi dihebohkan dengan buku pelajaran yang mengajarkan tentang komunisme. Jika RUU PT disahakan, lagi lagi, sudah jatuh ketimpa tangga lagi. Apa jadinya nasib dunia pendidikan negeri ini nantinya?
Kenapa masih diam?
Harga BBM hampir dinaikkan, ketika itu teman-teman kita sibuk turun ke jalan untuk memperjuangkan hak-hak rakyat dan untuk memperjuangkan kemakmuran rakyat yang selalu menjadi korban politis para wakilnya diatas sana, kita masih saja aman dan diam tentram, kenapa kawan? Kenapa masih saja diam. Apa kita terlalu nyaman dengan keadaan kita yang serba lengkap dan tak kurang apapun? Hidup dikosan yang nyaman, makan makanan bergizi setiap hari, bayar SPP tepat waktu, pergi kuliah dengan kendaraan yang nyaman tak perlu capek-capek, dan setiap minggu bisa liburan. Baik itu kenyamanan yang ditimbulkan karena kita kaya, atau kenyaman itu ditimbulkan karena kita mendapatkan beasiswa, sehingga tak perlu lagi membayar SPP bahkan tak pergi kerja sampingan untuk mencari bayaran uang kos atau uang makan.
Kenyamanan. Jangan karena itu kita tak mau lagi memikirkan teman-teman kita yang hidup sebagai mahasiswa atau bahkan yang ingin kuliah sedangkan mereka jauh dari kecukupan, jangankan utuk membayar SPP bahkan mungkin untuk membeli makan sehari-hari saja mereka kelinglungan. Banyak, banyak sekali yang bernasib jauh dari keberuntungan yang kita rasakan. Dulu waktu belum kuliah, aku berfikir keras apa aku bisa kuliah, ketika aku melihat berita di televise terkait tingginya uang masuk ke universitas, pada saat itu aku seperti mustahil bisa kuliah, namu nasib berkata lain, nasib menolongku dengan beasiswa. Namun, aku tak mau ada yang sepertiku dulu, namum nasib tak menyebelahi mereka, namun ditambah lagi dengan RUU PT yang datang untuk mengkomersialisasi pendidikan tinggi kita, seperti kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga lagi.
Beberapa kali aku terpaksa mejelaskan beberapa temanku terkait RUU PT ini, sudah berapa lama sejak kontroversi akan disahkannya pada tanggal 10 (10/4) kemaren, tapi notabene banyak ditataran mahasiswa itu sendiri tidak tahu akan dampak dari RUU ini, bahkan tidak tahu apa itu RUU PT, miris. Benar-benar kita terkungkung dalam zona kenyamanan. Cukup kawan, mulai hari ini mari kita lebih peka lagi, tanggung jawab sebagai social control menjadi amanah berat kita. Kenapa harus takut membela rakyat? Wong ini memang amanah kita.
Apakah kita (mahasiswa) semuanya harus turun ke jalan demo untuk menentang RUU ini?Aku tak mengatakan seperti itu. Sebenarnya dengan membaca tulisan ini, dan dengan kita tahu dampak dari RUU PT atau bahkan hanya tahu apa itu RUU PT, kita sebenarnya sudah menunjukkan tingkat kepekaan kita terhadap perubahan-perubahan yang berindikasi merugikan masyarakat. Tapi alangkah lebih baiknya, kita juga tak sekedar hanya tahu, tapi kita ungkapkan rasa kepedulian kita itu dengan aksi nyata, baik itu dengan membuat status facebook menolak RUU ini, atau membuat tweet, bisa juga membuat tulisan dengan riset dari pemikiran kita pribadi atau bahkan juga ikut demo. Semoga hidup kita ini sebagai mahasiswa jauh lebih bermakna, yang tak hanya ‘ngadem’ di lab, atau sibuk dengan kegalauan dengan pacar. Sehingga label kita (katanya) sebagai manusia intelek tak sia-sia kita sandang dengan bangga untuk rakyat.
Hidup Mahasiswa.
Hidup rakyat Indonesia.
Adam
Ketua Umum LSM Fostra KAMMI Sepuluh Nopember


Sumber: http://fsldk.org